Rabu, 27 Desember 2017

Piagam Gumi Sasak

Piagam Gumi Sasak : pembuktian penghargaan sasak




               Di indonesia, memiliki beragam suku bangsa, keragaman tersebut menciptakan kebudayaan yang berbeda antara daerah satu dengan daerah yang laian, kemudian dikenal dengan nama kebudyaan lokal  menyatu menjadi kebudayaan nasional. Salah satu suku yang ada di indonesia yaitu suku sasak. Dimana suku sasak ini memiliki beragam sejarah, budaya serta nilai- nilai keakrifan yang tinggi serta memiliki ciri khas tersendiri.
Suku Sasak telah menghuni Pulau Lombok selama berabad-abad, Mereka telah menghuni wilayahnya sejak 4.000 Sebelum Masehi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang Sasak berasal dari percampuran antara penduduk asli Lombok dengan para pendatang dari Jawa. Ada juga yang menyatakan leluhur orang sasak adalah orang Jawa. Sejarah Lombok sepertinya tidak dapat dipisahkan dari silih bergantinya kekuasaan dan peperangan pada masa itu. Baik itu peperangan antar kerajaan di Lombok sendiri, maupun peperangan yang ditimbulkan oleh perluasan kekuasaan dari wilayah lain. Oleh karena itu, generasi penerus bangsa suku sasak sekarang ini tidak lagi sepenuhnya mempedomani nilai-nilai tersebut bahkan ada kecenderungan untuk meninggalkan tradisi tersebut.
               Keadaan yang menghawatirkan ini menuntut adanya upaya untuk menerapkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan masyarakat sasak, sehingga generasi muda tidak melupakan budayanya sendiri. Oleh sebab itu lahirlah “ Piagam Gumi Sasak” yang bertujuan untuk menegakan dan menggali jati diri suku sasak. . Gumi sasak merupakan sebuah tempat bagi orang-orang sasak menggantungkan harapan kehidupannya. Di tanah tersebut, orang-orang  sasak melakukan serangkaian proses kehidupan dari generasi ke generasi dan melahirkan bagian-bagian yang harus diketahui oleh generasi mudanya. Kesuburan tanahnya mampu menopang kehidupan orang-orang sasak karena sumber air yang mengalir dari gunung Rinjani secara terus menerus, sehingga menjadi berkah tersendiri bagi orang-orang sasak. Dari beberapa catatan dan informasi, asal-usul suku sasak yang mendiami pulau lombok adalah ras Mongoloid di Asia tenggara. Penemuan situs sejarah yang paling penting untuk mengetahui kehidupan prasejarah di Gumi Sasak adalah penemuan benda-benda arkeologis di Gunung piring, Truwai, kecamatan pujut kabupataen Lombok Tengah. Adapun yang ditemukan adalah periuk utuh, kereweng, kerangka manusia, sisa kulit kerang, arang, fragmenlogam dan binatang. Sumber informasi sejararah lainnya diproleh dari cerita-cerita rakyat , babad lontar dan peninggalan berupa makam maupun masjid. Pada saat ini pulau lombok didiami oleh percampuran antara suku sasak dengan suku-suku dari jawa, sulawesi, kalimantan, sumatera, bali, dan nusa tenggara. Sebagian kecil lainnya terdapat masyarakat keturunan China dan Arab. Berikut isi dari piagam  Gumi Sasak.


Piagam Gumi Sasak

Menjadi bangsa Sasak adalah amanah yang harus dipertanggung-jawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah Sasak itu sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa Sasak yang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali menuju jatidirinya yang sebenarnya.
Perjalanan sejarah bangsa Sasak yang diwarnai oleh hikmah yang tertuang dalam berbagai bencana yang menenggelamkan, mengaburkan, dan menistakan keluhuran budaya Sasak. Berbagai catatan penekanan, pendangkalan makna, pengaburan jatidiri, sampai pembohongan sejarah dengan berbagai kepentingan para penguasa yang masih berlangsung hingga saat ini, melalui pencitraan budaya dan sejarah Bangsa yang ditulis dengan perspektif dan kepentingan kolonialisme dan imperialisme modern. Hal itu telah membuat bangsa ini menjadi Bangsa inferior yang tak mampu tegak di antara bangsa-bangsa lain dalam rangka menegakkan amanat kefitrahannya sebagai sebuah bangsa.
Sadar akan hal tersebut, kami anak-anak bangsa Sasak mengumumkan PIAGAM GUMI SASAK sebagai berikut:
Pertama:
Berjuang bersama menggali dan menegakkan jatidiri bangsa Sasak demi kedaulatan dan kehormatan budaya Sasak.
Kedua:
Berjuang bersama memelihara, menjaga, dan mengembangkan khazanah intelektual bangsa Sasak agar terpelihara kemurnian kebenaran, kepatutan, dan keindahannya sesuai dengan roh budaya Sasak.
Ketiga:
Berjuang bersama menegakkan harkat dan martabat bangsa Sasak melalui karya-karya kebudayaan yang membawa bangsa Sasak menjadi bangsa yang maju dengan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan tradisionalitas.
Keempat:
Berjuang bersama membangun citra sejati bangsa Sasak baru dengan kejatidirian yang kuat untuk menghadapi tantangan peradaban masa depan.
Kelima:
Berjuang bersama dalam satu tatanan masyarakat adat yang egaliter, bersatu, dan berwibawa dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kekuatan serta memberkahi perjalanan bangsa Sasak menuju kemaslahatan seluruh umat manusia.
Mataram, 14 Mulut tahun Jimawal / 1437 H
26 Desember 2015


 Narasumber: 

Murahim, S.Pd.,M.Pd.

Rabu, 20 Desember 2017

UMA LENGGE : Warisan Suku Mbojo




UMA LENGGE : Warisan Suku Mbojo



                Uma Lengge Desa Maria Kecamatan Wawo. Di Kabupaten Bima terdapat rumah tradisional yang disebut “ Uma Lengge”.  Uma berarti rumah dan lengge berarti mengerucut/ atau pucuk yang menyilang.  Uma lengge merupakan rumah tradisional peninggalan nenek moyang suku bima,uma lengge bertiang 4 dari bahan kayu, beratap alang-alang yang sekaligus menutupi tiga per empat bagian rumah sebagai dinding dan memiliki pintu masuk dibagian bawah atap, terdiri atas atap rumah atau butu uma yang terbuat dari alang-alang, langit-langit atau taja uma yang terbuat dari kayu lontar, serta lantai tempat tinggal terbuat dari kayu pohon pinang atau pohon kelapa.
“Uma Lengge”  tersebut memiliki  daya tarik tersendiri bagi para kalangan wisatawan, tidak hanya dari segi tampilan dan bentuk dari rumah adat namun juga dari segi filisofipun sangat menyimpan banyak hal yang menarik.

                Seiring perubahan zaman dimana masyarakat lebihmemilih tinggal di rumah yang lebih luas dan nyaman maka keberadaan uma lengge ini sudah semakin tertinggal. Serta fungsinya sudah di alihkan sebagai lumbung padi dan terpisah dari rumah penduduk. Seperti halnya uma lengge yang ada  di Desa Maria Kecamatan Wawo, uma lengge sudah ditempatkan jauh dari area rumah penduduk. Hal ini dimaksud untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Uma Lengge merupakan warisan leluhur suku bima atau aset budaya bima yangharus dijaga dan dilestarikan untuk para generasi yang akan datang supaya makin berkembang.